Ini bukan cerita horror, tapi jadi pengalaman yang berkesan bagi saya dan kedua temanku dan kejadian ini pun terjadi pada siang hari ( antara jam 1 – 2 siang). Kejadian ini terjadi sekitar bulan November 2010, setelah bencana Gunung Merapi Meletus dan menyemburkan abu volkanik ke segala penjuru DIY dan Sebagian Jawa Tengah (25 Oktober 2010).

Waktu itu kantor kami juga mendapat tugas untuk membagikan bantuan-bantuan dari sumbangan para donatur yang peduli kepada para pengungsi dan penduduk yang terkena dampak hujan abu.
Singkat cerita, kami bertiga diberi tugas oleh pimpinan untuk mengantar bantuan beras dan bahan2 makanan yang lain ke tiga lokasi di daerah Muntilan (Jawa Tengah) dengan membawa mobil Carry Pick up (bak terbuka). Kami Berangkat sekitarr jam 09.30 WIB, kebetulan saya yang menjadi supir ditemani satu orang di dalam mobil, dan teman yang satu di bak mobil, sambil menjaga bantuan yang akan kami kirim.
Di lokasi pertama dan kedua kami tidak menemukan kesulitan yang berarti, karena didukung jalan aspal yang masih bagus dan cuaca waktu itu tidak hujan, tetapi dampak hujan abu dari meletusya Gunung Merapi sungguh-sungguh kami bisa melihat dari banyak pohon2 yang daun-daunnya tertutup abu, sawah-sawah yang dipenuhi abu, tanaman padi yang rusak dan sayuran juga, padahal mungkin tinggal menunggu sebentar lagi untuk dipanen, yah bagaimana lagi bencana telah mendahului rencana manusia. Pencarian tempat lokasi 1 dan 2 tetap butuh waktu juga untuk menemukan lokasi sambil tanya-tanya orang. Tapi semua itu kami jalani dengan perasaan senang, karena setidaknya kami bisa membantu sesama yang sedang kesulitan walaupun hanya sementara.

Nah untuk lokasi ketiga ini yang paling sulit, karena jalannya sempit,(cukup sih untuk dua mobil tapi harus hati-hati dan harus pelan-pelan) aspalnya rusak, jalan yang berbatu dan menanjak naik bukit serta ditambah cuaca yang tidak mendukung, yaitu hujan deras. Wah …intinya harus berhati-hati, karena terkadang jalan berbelok tajam sehingga pandangan kami tidak bisa melihat yang ada di depan, kadang-kadang bertemu truk yang membawa kayu-kayu dan juga bertemu motor para penduduk yang membawa hasil bumi atau rumput-rumputan untuk ternak mereka. Pokoknya harus extra berhati-hati karena ada tambahan bonus yang lain yang harus kami hindari, yaitu jurang yang dalam di sisi jalan yang kami lewati (…ah jadi bersyukur bisa selamat dan menuliskan kembali cerita ini )

Sebenarnya pemandangan di sana indah…. tapi boro-boro lihat, ditambah hujan deras, jadi saya harus betul-betul fokus untuk menyupiri mobil, apa lagi mobil itu nggak pakai ac lagi, jadi pandangannya terganggu oleh kaca depan yang berembun.

Singkat cerita, kami akhirnya sampai di lokasi yang yang telah dijanjikan, kami pikir sudah sampai di lokasi pengiriman bantuan, ternyata masih harus jalan beberapa menit lagi, harus melewati jalan tanah berbatuan yang lebih berat kondisinya dibandingkan jalan sebelumnya, tapi sudah tanggung alias terlanjur basah (memang kami sudah basah karena hujan deras ha..ha..ha), pokoknya misi harus diselesaikan.

Dan akhirnya kami tiba di tempat tujuan dengan selamat di rumah bapak “B”. Setelah menurunkan bantuan, dan menikmati teh panas dan gorengan yang disuguhkan oleh tuan rumah, lalu dirasa cukup istirahatnya, kami pun berpamitan kepada Bapak “B” dan keluarga.

Mobil berjalan pelan-pelan karena jalan berbatu (bukan jalan aspal ) dan licin (habis hujan deras) dan agak menanjak, mobil kami mengalami sebanyak 2 kali slip (ban belakang berputar ditempat sehingga mobil tidak bisa bergerak).

Yang pertama; karena mobil slip dan jalan menanjak, mobil sempat mundur kebelakang beberapa meter, saya juga sempat panik, sehingga lupa menginjak rem, tapi untunglah teriakkan temanku di bak mobil menyadarkanku, lalu kuinjak rem….piuuuhhh… tahu nggak kalian,.. kira-kira 1 meteran lagi, kalau saya tidak menginjak rem, dan menarik hand rem pasti mobil akan masuk dan jatuh ke dalam jurang sekitar 5 meteran. Tapi akhirnya dengan perhitungan yang tepat, mobil bisa jalan kembali.

Yang kedua; dalam perjalanan (masih di jalan yang sama) kami bertemu dan melewati seorang ibu yang menggendong keranjang dengan diikat kain dibelakang punggungnya dan anak-anak SMP yang baru pulang sekolah sedang jalan kaki (maklum sekolah di daerah bukit dan terpencil) yang berjalan searah dengan mobil kami, setelah sekitar 15 meter melewati mereka, mobil kami mengalami slip ban belakang yang kedua, sampai kurang lebih 5 menitan, mobil tetap tidak bergerak maju, segala cara kami coba, bahkan anak2 SMP yang tadi kami lewati, juga ikut membantu mendorong mobil kami, tetap tidak bisa maju-maju walaupun saya sudah menginjak gas poll, mobil, ban belakang tetap berputar di tempat sampai membuat lubang yang cukup dalam.

Akhirnya ibu tadi sampai di tempat mobil kami, lalu beliau mengatakan kepada saya “Coba mas, klaksonnya dibunyikan ! Biar nggak diganggu….”. Saya sempat bingung, tapi tetap saya laksanakan perintah si ibu…klakson saya bunyikan 2 kali… .puji Tuhan, setelah saya coba injak gas, mobil bisa maju dengan lancar.

Kami bertiga akhirnya bisa bernapas lega dan geleng-geleng kepala, karena hanya gara-gara membunyikan klakson, mobil bisa berjalan kembali dan tidak mengalami slip ban lagi. Dan kami pun bisa melanjutkan perjalanan pulang sampai ke Yogyakarta dan tiba di kantor dengan selamat, dan tak lupa sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada anak-anak SMP atas bantuan tenaga mereka dan ibu tersebut atas saran atau nasehat beliau. Kami sangat bersyukur kepada Nya, karena kami masih dilindungi dan selamat.

Demikian cerita saya, mungkin membunyikan klakson itu ungkapan “Kulo Nuwun” atau minta ijin untuk numpang lewat di tempat yang belum kami kenal kepada “Mereka”. Benar atau tidak, kalau itu baik dan tidak terlalu merepotkan, tidak ada salahnya dilakukan. Tapi tetap hanya kepada Allah lah, kita meminta perlindungan dan keselamatan.

Terima kasih, semoga menghibur. Matur Nuwun