Aku antar kau, pagi pukul 9, laju sepeda motor tua, seperti malas tak beringas… 😀

Pagi hari, sekitar pukul 8 pagi, aku bersiap-siap untuk mengantar istriku untuk melaksanakan tugasnya mengajar di salah satu kampus di Yogya, katakanlah Kampus “B” sebagai dosen tamu. (Sebenarnya agak mengantuk juga, karena sebelumnya aku dan anak-anak menjemput di Stasiun Kereta Api “Tugu” Yogyakarta dengan mobil, istriku yang tiba dengan kereta api dari jurusan Bandung, jam 03.30 WIB, walaupun setelah sampai di rumah tidur lagi 😀 ). Anakku yang besar sudah berangkat ke sekolah, sedangkan anakku , yang paling kecil juga sudah bangun, setelah mandi, aku dan istrikupun siap-siap berangkat berdua berboncengan dengan naik motor. Tapi yah namanya punya anak kecil, pasti agak rewel dan kepingin ikut papa dan mamanya, akhirnya setelah diajak keliling kampung sebentar, dia sudah tidak rewel lagi, lalu setelah itu kami titip anak kepada Tanteku. Lalu berangkatlah kami berdua dengan motor sekitar 08.30 wib.

Oh ya, karena istriku harus mengambil satu buku terlebih dahulu di Kampus “A”, tempat dia mengajar sehari-hari, (dia memang dosen dan pegawai tetap di kampus itu), sebelum nantinya menuju ke kampus “B” (universitas yang berbeda), karena buku itu akan dia pakai untuk mengajar di Kampus “B” .

Dari pihak Kampus “A”, tidak mempermasalahkan para dosen untuk mengajar di tempat lain, asalkan di luar jam kerja Hari Senin – Jumat. Nah sekitar jam 9 pagi, sampailah kami di sana. Setelah minta ijin satpam untuk ke kantornya, akhirnya istriku pun segera menuju ke dalam Kampus “A”, awalnya aku ingin menunggu di parkiran dekat pos satpam, tapi entah kenapa, aku pun lalu menyusul istriku untuk menemaninya, karena kasihan kalau hanya sendirian 😀

Tidak sampai 1 menit, lalu dengan kunci dibukalah pintu kantor, lalu kami pun masuk ke dalam kantor istriku, dan dia pun menuju ke ruang kerjanya, sedangkan aku menunggu di kursi front office. Kantor memang sepi, karena hari itu hari Sabtu dan hari libur, jadi memang tidak ada orang. Istri ku pun memanggil aku untuk menuju ke ruangan kerjanya untuk menemaninya. Kira-kira 5 menit, akhirnya buku yang dia inginkan ditemukan.

Sebagai gambaran kantor itu, bentuknya bangunan memanjang, dan kanan kiri dibikin sekatan untuk dibikin ruang kerja untuk para dosen dan ruang lain, bagian belakang dapur dan toilet, kalau di ukur dari depan sampai ke belakang kantor lebarnya 6 meter dan panjangnya 12 meter.

Bangunan itu menggunakan AC , nah ada AC yang di pasang di lorong, letaknya dekat dengan ruang kerja , jadi dekat pintu masuk ruang kerja istriku, tiba-tiba tanpa kami ketahui, menyala sendiri. Lalu aku coba mematikan dengan remote yang ada digantung dekat AC, tapi tidak bisa dimatikan, istriku pun mencoba membantu, tapi hasilnya juga sama. Masih berpikir positif, aku tanya istriku apa ada baterai yang lain, siapa tahu baterai remote AC lemah. Lalu istri ku pun mencari dan menemukan baterai baru , lalu segera aku ganti baterai remote yang lama dengan yang baru, tapi ternyata tetap tidak ada hasil. AC tetap menyala, mau kita matikan juga bingung, karena tidak tahu jalur listriknya untuk mematikan.

Akhirnya istriku menelpon teman sekantor yang biasa mengurusi rumah tangga kantor, dan bertanya cara mematikan AC. Tapi jawabannya malah membuat istriku tambah bingung, karena temannya merasa AC itu belum pernah diperbaiki semenjak rusak 2 bulan yang lalu, istriku sebenarnya juga tahu kalau AC itu rusak, tapi dia pikir sudah diperbaiki saat selama hampir 2 minggu berada di Bandung untuk mengikuti pendidikan, jawaban temannya inilah yang membuat kami menjadi bingung, kalau rusak kenapa ACnya bisa nyala sendiri. Akhirnya teman istriku menyarankan saja untuk melaporkan ke satpam, supaya sementara listrik kantor dimatikan dulu sampai menunggu diperbaiki pada hari senin.

Tiba-tiba istriku berkata, “Helen..helen, tolong ya kamu jangan usilin aku ya!”, sempat aku agak bingung, istriku kenapa kok ngomong seperti itu??? Lalu istriku pun menjelaskan kalau si Helen adalah salah satu penunggu di kantor, yang sering mengusilin orang-orang di kantor, tapi tidak sampai menunjukkan dirinya, termasuk istriku pun sering juga jadi korban keusilan si MG “Helen”. “Wah, mungkin ini penyambutan dari Helen untuk aku, mas, soalnya aku pergi ke Bandung belum pamit sama dia”, kata istriku. Ya karena kebutuhan istriku sudah cukup, akhirnya kami berdua segera keluar dari kantor itu, sebelum mengunci pintu kantor, istriku pun berkata lagi, “Pamit dulu ya Helen, tolong ya bantu aku matiin AC nya, terima kasih ya untuk penyambutanmu.” (Untung-untung, kejadiannya masih pagi, kalau agak malam…. embuhlah 😀 )

Singkat kata, kami pun pergi meninggalkan Kampus “A”, setelah sebelumnya sesuai dengan petunjuk teman, untuk memberitahukan Satpam untuk meminta mematikan listrik di kantor, karena ada masalah dengan AC yang nggak bisa dimatikan.

Saat di rumah:

Setelah selesai istirahat dan mandi, kembali aku menanyakan, mengenai si Helen, siapakah dia, sehingga disebut oleh istriku saat di kantor. Lalu istriku bercerita (tentunya dari orang lain 😀 ), kalau si Helen adalah seorang Noni Belanda yang cantik berambut pirang, bangunan yang menjadi kantornya sekarang ini dulunya adalah bagian bangunan dari Rumah Sakit waktu zaman penjajahan Belanda…. (he..he.. entah kenapa saat aku mengetik cerita ini, badanku sering merinding sendiri… 😀 ), lalu sejarahnya bagaimana sampai Helen menjadi penghuni di sana, istriku tidak bisa mejelaskan, karena memang tidak tahu (pikir saja sendiri ya..ha..ha.. 😀 ), tahunya diceritakan oleh pegawai senior dari bagian/fakultas lain, yang sebelumnya pernah berkantor di tempat itu, sering mengalami diusilin Helen, dan pernah sekali melihat penampakan si Helen noni belanda. Dan juga penunggu yang lain.

Selain itu juga pernah ada seperti bau asap cerutu yang pernah tercium di kantor itu, hanya saja istriku tidak mencium bau cerutu itu, padahal pada saat itu sebagian besar yang di kantor mencium bau asap cerutu. Tapi kalau yang ini bukan kerjaan si Helen pastinya.

Ini kejadian lain dan nyata dari keusilan si Helen, kebetulan ini menyangkut istriku sendiri. Jadi ada telepon dari kantor ke biro kemahasiswaan, yang mengatas namakan istriku, yang mau berbicara/bertemu dengan Bu Heni (samaran), tapi kebetulan beliau sedang pergi ke luar, yang menerima telepon tersebut namanya mas Budi (samaran), setelah bu Heni datang agak siang, mas Budi menyampaikan kalau ada telepon dari istriku. Kebetulan saat jam istirahat siang, bu Heni lalu YM an (Yahoo Messenger) dengan istriku. Lalu menanyakan ada keperluan apa, kok tadi telepon sekitar jam 09 pagi, istriku pun menjawab, kalau tadi jam 9 pagi, tidak merasa menelpon ke biro kemahasiswaan, karena membantu teman-teman di Front Office bersih-bersih dan baru saja selesai. Bu Heni masih nggak percaya, karena setelah tanya mas Budi, katanya no teleponnya dari kantor istriku, dan suara di telepon itu adalah suara istriku. Horo…kepiye iki…ha..ha..ha… memang usil betul si Helen… 😀

Maaf kalau belepotan, soalnya saat aku mengetik cerita ini agak tergesa-gesa, karena pas hari senin malam (selasa malam), dan aku harus segera berangkat ronda. Maaf ya kalau kurang seram, semoga terhibur