Sejak 1988, saat tahun kedua aku tinggal di Yogyakarta, aku tinggal bersama dengan kakek nenekku di Sleman. Waktu itu aku kelas 2 SMA. Daerah kampungku masih sepi tidak seramai seperti sekarang ini. Dulu masih banyak lahan dan kebun kosong, sekarang sudah banyak bangunan rumah yang baru. Kalau dulu perasaan jam 6 sore sudah sangat sepi sekali, dan tidak banyak mobil dan motor hilir mudik. Tapi ya namanya penduduknya semakin bertambah tentunya juga membutuhkan tanah dan rumah untuk dibangun, seingatku tahun 1988 harga tanah permeter perseginya antara Rp 10.000 – Rp 20.000 per m2, sekarang wuihhh kenaikannya sangat dasyat. Tapi tetap saja ada yang beli dan membangun rumah baru,dan sekarang bukan lagi kampung yang sepi

Tapi ada 1 rumah yang sangat menarik perhatianku, selama aku menjadi warga di sana, ada 1 rumah mungil yang letaknya di sebelah selatan dari rumahku, yah sekitar 200 meteran lah kalau mau mengukur πŸ˜€ dari rumahku. Setahuku dulu ada yang menempatinya, tapi beberapa bulan kemudian, ditinggal, dan sejak saat itu tidak pernah ditempati lagi sampai sekarang. Bayangkan saja sejak 1988 – 2013, rumah itu terbengkalai dan menjadi rusak. Aku pun cuma berpikir, apa nggak ada yang punya, atau pemilik rumah itu tidak punya anak, lalu meninggal dunia, sehingga tidak bisa diketahui kelanjutannya dari yang memiliki rumah itu. Aku juga menanyakan kepada warga asli di sana, tapi jawaban mereka juga tidak bisa memuaskan rasa penasaranku, ada yang cerita kalau tanah dan rumah itu dibeli pendatang dari Sumatera, kemudian dia pulang kembali ke Sumatera, dan selanjutnya tidak ada yang tahu kabarnya lagi. Ada juga yang mengatakan milik orang dari Semarang, yang bekerja sebagai pelaut di kapal pesiar, lalu ada yang berusaha menghubunginya untuk membeli rumah dan tanah tersebut, tapi ditolak dengan alasan tidak di jual. Tapi ya anehnya sampai sekarang rumah itu tidak diurusnya, mungkin saking punya uang banyak, belum merasa perlu untuk menjual rumah itu, tapi ya itu rumah dibiarkan rusak dan gelap seperti itu sampai sekarang, dan jadi rumahnya MG, yang jadi korban terror ya penduduk sekitar πŸ˜€

Dulu , di sebelah kanan kirinya hanya kebun/tanah kosong, dan waktu itu jarak antara rumah satu dengan yang lain agak berjauhan, di depan rumah itu juga hanya tanah kosong. Terkadang dulu kalau aku lewat di depan rumah itu pada saat malam hari agak was-was juga, maklumlah penerangan juga secukupnya, sedangkan di depan rumah itu dulu banyak pohon rumpun bambunya yang rimbun, tinggi menjulang dan besar-besar, jadi sungguh menambah kegelapan, kesunyian dan keangkeran jalan di sekitar rumah itu, tapi sejujurnya selama aku melewati depan rumah itu, tidak pernah mengalami hal-hal yang menakutkan, hanya saja sering merasakan sesuatu yang lain, minimal membuat bulu kudukku berdiri.

Oh ya, aku pernah dengar beberapa cerita dari warung angkringan yang biasa aku datangi setiap malam, waktu masih bujang (sekarang sih juga masih, tapi sudah sangat jarang) dan sekitar tahun 2009 jadi pos untuk Ronda Malam Selasa, setelah berkeliling kampung, untuk sekedar membeli minuman hangat.

Korbannya adalah langganan dari warung angkringan itu, tapi bukan warga kampungku. Jadi sekitar jam 1 an malam, warung angkringan tersebut pun sudah akan ditutup, lalu pulanglah bapak A menuju ke rumahnya, mau nggak mau beliau harus melewati jalan depan rumah itu, saat sudah berada di depan rumah dan rumpun bambu itu, tiba-tiba di lengan kanannya ada sesuatu yang jatuh dari atas, menempel di lengannya, agak basah , berlendir dan lengket, di pikirnya ada burung yang mengebom dari dari atas, tapi setelah diperhatikan kok agak besar dan menggumpal, lalu dia cium , berbau nggak enak, agak anyir. Saking herannya dia menoleh agak ke atas….astaga dia melihat gendruwo nangkring di pohon bambu dengan santainya dan meludah, sambil melototin bapak A. Melihat itu, larilah si bapak terbirit-birit sambil teriak-teriak. Sampai di rumah, dia segera mencuci tangannya, tapi tetap saja nggak hilang-hilang sampai 2 hari.
Seorang pengendara sepeda motor; karena mendapat jatah harus lembur, mau nggak mau pulangnya jadi agak kemalaman, biasanya sih sampai jam 8 malam saja. Sekitar jam 12 an malam, selesailah pekerjaannya. Karena ingin secepatnya sampai di rumah, akhirnya ambil jalan pintas, melewati jalan itu. Tepat di depan rumah tersebut, dia agak memperlambat jalannya karena sepertinya ada acara di rumah itu, dan banyak yang menyebrang dari arah rumpun bamboo di seberang rumah itu. Lalu ia berhenti, memberi kesempatan bagi yang akan menyebrang, tapi orang-orang yang menyebrang itu semua diam, menunduk, dan wajahnya pucat semua, (tapi karena sudah capek, dia tidak begitu peduli) setelah itu barulah ia melanjutkan perjalanannya. Suatu ketika tidak terlalu malam ia kembali melewati rumah itu, tetapi ia menjadi heran, rumah yang kemarin terlihat bagus dan terang benderang sebelumnya, terlihat rusak, gelap dan dipenuhi semak-semak dan rumput-rumput liar.
Tahun 1990 jalan tanah sudah berubah menjadi jalan aspal, tetapi masih belum banyak bangunan rumah yang baru. Karena kampungku relative masih sepi waktu itu, sehingga banyak anak-anak abg yang senang ngebut di jalan itu karena sudah di aspal, ribut sekali pas setelah magrib, karena banyak yang naik motor sambil ngebut, apa lagi pakai knalpot yang dibikin suaranya biar keras. Entah penghuninya merasa terganggu atau bagaimana, banyak motor abg-abg labil itu yang sering kecelakaan di sekitar rumah itu, tapi tidak sampai ada korban jiwa meninggal, biasanya mereka mengerem mendadak, karena tiba-tiba melihat ada wujud orang atau seperti pocongan yang menyebrang sambil lompat-lompat menuju ke arah rumah itu, yang menyebrang mendadak di jalur ngebut mereka persis di depan rumah terbengkalai itu, mereka mengerem dan berusaha menghindari, sehingga sering menabrak rumpun bamboo yang ada di seberang rumah itu.Tapi kalau yang naik sepeda motor dengan kecepatan yang wajar tidak pernah diganggu.
Ini cerita yang terbaru, sekarang kanan dan kiri dan depan rumah tua itu sudah ada bangunan baru dan relative sudah ramai dan ada lampu penerangan jalan yang cukup terang. Tetapi ada cerita kalau penghuni rumah yang berada di sebelah selatan rumah tua itu ( setelah rumah tua itu, kalau dari arah rumahku) mendapat terror gangguan MG, sehingga belum ada 1 bulan, mereka meninggalkan rumah mewah itu, karena tidak tahan dengan gangguan yang dialami setiap malam. Sebelum mereka menjual rumah itu, sengaja mereka meninggalkan 2 anjing herder di rumah itu, biar tidak di masuki maling, selama proses mencari pembeli baru,. Setiap pagi, siang, dan menjelang senja, ada yang ditugasi memberi 2 anjing itu makan dan minum, sekaligus mematikan dan menyalakan lampu di rumah itu, tapi tidak tidur di sana. Entah bagaimana ceritanya, pada satu hari ada 1 anjing yang mati, sedangkan 1 nya lagi terlihat seperti ketakutan dan stress.
Sekarang sudah ada pemilik baru, tapi digunakan untuk kos-kosan, mungkin karena sudah banyak orang, gangguannya menjadi berkurang, bahkan tidak ada lagi.

Demikianlah teman-teman hasil investigasiku saat ronda, semoga terhibur, dan mohon maaf bila kurang seram dan seru. Terima kasih, semoga terhibur