Lanjut ya…..

Lalu si Gotil pun melaksanakan janjinya, kami yang berkumpul di kamar di suruh duduk bersila mengelilinginya, yuyu yang dia bawa diletakkan di piring plastic, kemudian dia mengheningkan cipta sebentar, setelah itu mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantra, sekitar 10 menit tidak ada tuyul yang datang, gagal katanya alasannya ada yang kurang, kami pun dibuat kecewa.

Selanjutnya giliranku beraksi, kukatakan aku akan melaksanakan ritual pemanggilan gendruwo,ke enam orang temanku kusuruh duduk bersila di lantai, berjejer tiga-tiga, dan saling berhadapan. Lalu untuk menambah suasana mistik, kusuruh Abdul mematikan lampu kamarku, dengan hanya mengandalkan penerangan lampu teplok. Kemudian untuk menunjukkan kepada mereka, kalau aku memang memiliki kesaktian, kemenyan kutaburkan ke tungku…buzz…asap pun mengepul banyak dan bau kemenyan menyelimuti kamarku, golok yang sudah membara yang sebelumnya kutaruh di atas tungku kuambil dan kujilat berulang-ulang (padahal nggak perlu sakti, asalkan tahu rahasianya semua orang pasti bisa melakukannya), teman-temanku terkagum-kagum melihatku menjilati golok yang membara itu. Kelihatannya mereka sangat percaya kalau aku betul-betul bisa melakukan pemanggilan gendruwo. Lalu kusuruh mereka untuk memejamkan mata, bermeditasi dengan kedua telapak tangan terbuka keatas di dada mereka, aku mengatakan “Apa pun yang terjadi jangan sampai ada yang membuka mata sampai aku perintahkan untuk membukanya!” dan mereka pun mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.

Aku kemudian menyiapkan piring dari seng, kemudian aku taruh di atas lampu teplok, asap dari lampu teplok yang hitam kemudian menempel di piring itu, memang aku sengaja melakukannya karena butuh sisa-sisa asap lampu teplok yang berwarna hitam itu. Kemudian sisa-sisa dari pembakaran asap lampu teplok itu kuoleskan pada kembang setaman, lalu aku berkata kepada mereka “ nanti akan aku taruh kembang di telapak kalian, sebagai bagian dari ritual ini,” lalu kembang yang sudah kuoleskan jelaga hitam itu, kutaruh di atas telapak tangan mereka, sambil kuusap-usap telapak tangan mereka, dan jadilah telapak tangan mereka menjadi hitam dari abu jelaga itu. Aku dan Abdul menahan tawa, nggak ingin ketahuan kalau mereka kupermainkan. “Sekarang usapkan tangan kalian ke wajah kalian, tapi tetap pejamkan mata kalian, sebanyak tiga kali!” dan mereka pun melakukannya.

Terbayang nggak, wajah mereka menjadi hitam karena abu jelaga hitam dari asap lampu teplok. 😀 . Aku tetap berusaha untuk menahan tawaku. Si Gotil pun agak merasa risih, karena ada sesuatu yang aneh di wajahnya, tapi dia tetap memejamkan matanya, “Dab (mas), apa ini yang lengket di wajahku???” Aku jawab, “Diamlah nanti, ritualnya gagal, itu hanya air dari kembang yang kamu usap di wajahmu”. Si Gotil pun percaya dan diam.

Satu menit telah berlalu, dan aku pun melaksanakan rencana berikutnya, lalu aku pun memberi kode kepada Abdul untuk keluar kamar secara tenang dan diam-diam, lalu dia mengambil sapu ijuk dan mulai menyapu halaman di luar kamarku….srettt sreet..sreet..berhenti sebentar…srett..srett..srreettt… aku kemudian menimpali “Yah itu ada yang datang, terdengar isyaratnya”…. Kemudian si Abdul menyapukan sapu ijuknya ke dinding luar kamarku…srettt..srettt…sreeettttttttt panjang…. “semakin mendekat, ada yang datang, teman-teman tetap pejamkan mata kalian, apapun terjadi ya!” Kulihat mereka mengangguk-anggukkan kepala, dengan mimik wajah lebih ketakutan, dan berusaha memejamkan matanya serapat-rapatnya.

Aku berusaha agar tidak tertawa, tapi tidak berhasil sampai sakit perutku. Dan untuk mengkamuflase tertawaku lalu aku teriak-teriak ……“Dulll..dulll…ada yang mengitik-itik kakiku, tolong diusir nih si Tuyul, bukan dia yang mau kupanggil”, lalu si dul beraksi dengan gayanya mengusir si tuyul dengan tenaga dalam, “shhhttt…shttt…arghhhhh ..pergi kamu, rasakan ini…sttttt..hsss…hiattt”. Teman-temanku yang sedang duduk bermeditasi pun semakin bertambah ketakutan. Karena dikira si Abdul betul-betul bertarung dengan si tuyul 😀 . Setelah itu hening kembali.

Aku berkata “Teman-teman tetap pejamkan mata, karena rupanya banyak bangsa MG yang tidak berkepentingan juga hadir di sini, dan untuk mencegah jangan sampai kalian diganggu dan kerasukan, maka aku harus mengoleskan sesuatu ke wajah kalian!” Lalu aku melanjutkan aksi yang berikutnya, aku olesi wajah mereka kembali dengan kunir yang telah aku campur dengan injet, juga masih kurang puas, kebetulan aku menemukan lipstik ibuku , lalu kucoret-coret lagi wajah mereka. Dan tidak ada protes dari mereka, karena sudah benar-benar ketakutan, dan percaya pada perkataanku. Kemudian aku berkata lagi, “Sebentar lagi kalian boleh membuka mata, siapkan batin kalian, karena gendruwonya sudah ada di depan kalian, jangan takut karena Gendruwonya sudah kujinakkan terlebih dahulu”, lalu lampu teplok kumatikan, ruangan kamarku menjadi gelap sekali, sebelumnya aku sudah siap di tempat saklar lampu kamarku. “Sekarang buka mata kalian pelan-pelan!”

Beberapa detik aku menunggu setelah mereka membuka mata mereka, tapi mereka belum melihat apa-apa karena masih gelap, lalu kunyalakan lampu kamarku. Tahu nggak mereka sempat kaget melihat wajah yang ada di depan mereka, wajah hitam bekas jelaga asap lampu teplok, campur kunir dan injet, serta lipstick dan nggak karu-karuan bentuknya. Sempat mereka kaget dan terpana beberapa detik memandang wajah “manis” yang tersaji di depan mereka, lalu barulah mereka tersadar, kalau wajah yang mereka lihat adalah teman sendiri, dan kemudian baru sadar kalau sedang dikerjain aku. Lalu mereka pun mengejar aku keluar kamar sambil mengeluarkan sumpah serapah sampai kebun binatang Gembira Loka ikut disebutin semua. Aku pun dipukuli sama mereka, tapi nggak sungguh-sungguh, sedangkan aku dan Abdul tertawa terbahak-bahak sampai perut kami sakit dan sampai keluar air mata.

Terima kasih, semoga terhibur