Ini cerita yang pernah aku dengar dari seorang teman sekelas waktu SMA dulu sekitar tahun 1989 an. Dia aslinya dari daerah Imogiri, DIY, kalian pasti tahu (kalau belum tahu kuberitahu ya 😀 ) , daerah Imogiri dikenal sebagai Permakaman Imogiri, Pasarean Imogiri atau Pajimatan Girirejo Imogiri merupakan kompleks permakaman yang berlokasi di Imogiri, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta. Permakaman ini dianggap suci dan kramat karena yang dimakamkan disini merupakan raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram. Tapi bukan itu yang akan kuceritakan untuk teman-teman 😀

Tempat atau di daerah apa pun, pasti ada semacam isyarat atau tanda-tanda yang muncul sebelumnya, apabila di suatu tempat ada yang akan meninggal dunia. Entah seperti ada suara burung malam (gagak mungkin) dan lain-lain, kalau di tempat penulis, salah satunya biasanya ada suara-suara ribut di tempat penyimpanan kereta jenasah ( menurut juru kunci pemakaman) sebelum ada kejadian orang meninggal. Atau seperti yang pernah penulis dengar dari penjual peti mati, kalau ada peti mati yang bergerak atau seperti bergoncang beberapa detik, itu biasanya menandakan peti mati itu akan laku di beli orang untuk dipakai menaruh jenasah. Penulis percaya bahwa di tempat teman-teman, juga pasti ada semacam tanda2 atau isyarat2 yang biasa umumnya diketahui orang-orang apabila akan ada orang yang meninggal dunia sebelumnya.

Baiklah, kembali ke cerita temanku, ini adalah cerita yang ia dengar dari bapaknya. Dulu di daerahnya tepatnya di kampung kelahirannya di Imogiri, juga ada semacam tanda2 kalau sebentar lagi akan ada yang meninggal dunia di kampungnya. Biasanya tanda-tandanya adalah penampakan seperti keranda jenasah yang berjalan sendiri seperti terbang di tengah malam dan muncul di saat orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, hanya orang yang betah melek atau tidur di atas jam 12 malam atau dini hari yang pernah melihat penampakan keranda jenasah yang terbang itu. Biasanya muncul apabila ada warga yang sakitnya agak parah atau kritis dan sudah berhari-hari tak kunjung sembuh. Kehadiran keranda jenasah terbang biasanya disertai suara seperti lonceng kecil yang berbunyi …klinting…klinting..klinting, lalu berhenti di depan rumah orang itu, dan biasanya keesokan paginya atau paling lama 1 – 2 hari pasti akan ada pengumuman orang yang meninggal dunia di kampung itu. Tetapi juga, ada versi lain, bahwa keranda jenasah itu juga muncul di depan rumah warga yang anggota keluarganya tidak sedang dalam keadaan sakit, tetapi juga keesokannya harinya pasti ada kabar berita duka dari rumah warga yang malam sebelumnya di kunjungi keranda jenasah terbang itu.

Menurut seorang paranormal (betul atau tidak terserah saja), keranda jenasah itu sebetulnya tidak terbang, tapi menurut mata batinnya, ada sekitar 6 wujud orang laki-laki jaman dahulu yang hanya memakai cawat dan kaki mereka ada dipasang seperti lonceng kecil yang mengangkat keranda jenasah itu, berwajah pucat dan pandangannya kosong. Benar atau tidak, karena orang umumnya tidak bisa melihat mereka, tapi yang terlihat seperti keranda jenasah yang sedang terbang.

Ada cerita seram dan lucu yang temanku ceritakan dan ini dialami bapaknya sendiri. Waktu itu pas malam jumat tapi yang pasti bukan malam jumat kliwon. Waktu itu cuaca agak hujan, bapaknya biasanya memang sering begadang di luar rumah dan tidurnya selalu di atas jam 2 malam, karena hujan akhirnya hanya tinggal di rumah saja dan duduk di teras rumah sambil mendengarkan radio yang menyiarkan wayang kulit. Kebetulan di teras rumah ada kursi panjang (lincak) dari bambu yang bisa digunakan untuk tidur-tiduran. Oh ya waktu itu memang listrik sudah ada, tetapi memang belum semua bisa menikmati jasa layanan listrik, jadi bisa dibayangkan kalau di sana penerangan di kampung sangat terbatas. Dengan ditemani lampu teras yang hanya 5 watt saja si Bapak (waktu itu masih muda) dan dengan bantal dan sarung, tidur-tiduran di lincak itu sambil mendengarkan siaran wayang kulit. Nah saat akan terlelap, tiba-tiba sayup-sayup dia mendengar suara …klinting..klinting…klinting, awalnya sih nggak begitu jelas karena dia pikir itu suara dari radio, setelah itu dia pun memejamkan mata kembali. Belum ada setengah menitan, dia pun mendengar suara lonceng itu lagi. Tapi dasarnya si bapak adalah orang yang pemberani, sambil mengecilkan suara radio sedikit, dia pun pura-pura tiduran lagi sambil menutupi kepalanya dengan sarung.

Menurut cerita temanku, keranda jenasah itu sepertinya terbang ke sana kemari, memutari kampung itu terlebih dahulu, sampai akhirnya sekitar 2 kali memutar kampung melewati jalan-jalan kampung, akhirnya tiba-tiba berhenti di depan rumah bapaknya. Bapaknya yang waktu itu sedang tidur-tiduran, pura-pura nggak tahu dan berusaha tidak melakukan gerakkkan yang mencurigakan alias pura-pura tidur nyenyak. Sekitar 5 menitan dia menunggu apa yang akan terjadi. Udara malam waktu itu cukup dingin, tapi tiba-tiba dia merasakan hawa yang lebih dingin dari pada biasanya seakan-akan menyelimuti tubuhnya. Si bapak berusaha untuk tetap tenang dan mengucapkan doa-doa dalam hatinya sambil terus memejamkan matanya. Tiba-tiba dia merasa seperti badannya ada seperti tangan-tangan dingin yang mencoba mengangkat tubuhnya dan terangkatlah tubuhnya dari lincak itu. Dasarnya beliau bukan penakut, sambil masih memejamkan mata, dia sedikit berteriak “ Woiiii …wonge isih urip jeee !!!” artinya kira-kira “ Woooi orangnya masih hidup lho”.

Setelah beliau berteriak seperti itu, tubuhnya seperti jatuh kembali ke lincak, sambil terus memejamkan mata, dia mendengar seperti bunyi ….klinting…klinting…klinting tapi dengan nada agak cepat seperti orang yang berlari cepat, setelah itu menghilang tak terdengar lagi. Lalu si bapak membuka matanya dan melihat kalau keranda jenasah itu sudah tidak ada lagi di depan rumahnya. Bapaknya kemudian berdoa, mengucapkan syukur bahwa masih dilindungi oleh Tuhan. Lalu kemudian masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan tidurnya.

Kami yang mendengar cerita itu, tertawa terbahak-bahak dan mengagumi keberanian bapaknya teman sekelas, sambil membayangkan kejadiannya, ada temanku mengomentari, mungkin MG nya kaget waktu dengar teriakan si bapak, atau yang lain juga berkomentar…kerandanya salah target kali..he..he… 😀

Demikian teman-teman, ceritaku, maaf kalau tidak seram. Semoga terhibur