Baru 4 hari si ibu yang diketahui bernama Ibu Tin dan anaknya yang berumur 4 tahun itu menempati kamar sebelah. Kekhawatiran Ira (baca: Part 1) pun menjadi kenyataan. Saat itu Ira sedang libur kerja. Ia berencana untuk menghabiskan waktu di kost-an nya saja sambil nonton dvd korea di laptopnya. Pas sedang asyik-asyiknya menonton, tiba-tiba Ira diganggu dengan suara tangis anaknya Bu Tin.
“aduuuh, berisik banget. Jadi ga konsen nontonnya nih” gerutu Ira.
Tidak lama setelah itu, terdengar keributan kecil di kamar tetangganya itu. Ira perlahan menempelkan telinganya ke dinding pembatas antara kamarnya dan kamar Bu Tin untuk menguping apa yang sebenarnya sedang diributkan.
“Maa.. Takut maa. Ada yang ketawa. Takuuutt” tangisnya.
Sang ibu yang sedang mencuci baju memarahi anaknya karna merengek terus, “Itu cuma suara tv! Sudah jangan nangis terus. Mama sedang nyuci ini, jangan ganggu tar ga selesai-selesai” kata Bu Tin sedikit berteriak.

Si anak tetap merengek minta ditemani. Ira yang sedari tadi menguping percakapan itu menjadi parno sendiri. Dia membatalkan niat nontonnya, mematikan laptop dan bergegas keluar rumah. “Ke rumah temen aja ah. Suasana kost-an tiba-tiba jadi ga enak gitu” katanya dalam hati. Maksud Ira ke rumah teman disini yaitu ke rumahku. Hehehe. Dia menghabiskan waktu di rumahku dan menceritakan semua yang dia alami di tempat kost nya itu.
Jam 5 sore Ira kembali ke tempat kost. Dia heran melihat Bu Tin dan Bu Ayi (pemilik kost) sedang sibuk mondar-mandir keluar masuk kamar Bu Tin. Wajah mereka terlihat cemas seakan-akan ada sesuatu yang gawat sedang terjadi. Benar saja, setelah Ira tengok ke kamar, anaknya Bu Tin sedang kejang-kejang. Matanya mendelik ke atas dan badannya pun terlihat menguning. Ira melotot kaget. Jangan-jangan…
“Ira, coba tolong panggilin Pak Haji Jumi. Rumahnya dekat toko sembako di sebrang jalan” sahut Bu Ayi. “Cepat ya!” sambungnya. Ira bergegas ke tempat yang Bu Ayi maksud. Tidak berapa lama muncul Ira dan Pak Haji di kamar Bu Tin. Saat itu si anak masih sedang kejang-kejang. Pak Haji menyuruh Bu Tin membawa segelas air. Lalu dengan Pak Haji air itu seperti dibacakan doa, lalu diminumkan ke si anak. Tidak lama setelah diberi minum, tubuh anak itu berangsur tenang. Kulitnya yang menguning kini menjadi normal kembali.
“Ya Allah, ada apa dengan anakku..” kata Bu Tin sambil menangis memeluk anaknya.
“Bisa ngobrol berdua dengan mama nya?” kata Pak Haji sambil memandang Ira dan Bu Ayi.
Mereka segera keluar dari kamar dan menutup pintu. Ira penasaran dengan apa yang Pak Haji dan Bu Tin bicarakan. 15 menit kemudian Bu Tin keluar bersama Pak Haji. Bu Tin berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Pak Haji karna telah menolong anaknya. Setelah Pak Haji pamit pulang, Ira segera menemui Bu Tin untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Untungnya Bu Tin mau menceritakan semuanya.
Waktu hari pertama pindah, Bu Tin memasak bubur merah untuk anaknya. Saat sedang menyiapkan bubur di mangkuk tiba-tiba dihadapan Bu Tin muncul nenek-nenek berkebaya lusuh. Bu Tin sangat kaget karena kemunculan nenek bermata merah itu yang mendadak. Bu Tin sadar kalo nenek itu bukan manusia ketika melihat kaki si nenek yang menjuntai tidak menginjak lantai. Nenek itu membawa daun pisang yang di bentuk seperti mangkuk dan menyuruh Bu Tin untuk menuangkan bubur ke mangkuknya.
Alih-alih karna takut, Bu Tin tidak menuruti kemauan si nenek, justru malah menyuruh nenek itu pergi dan jangan mengganggu lagi. Memang benar nenek itu langsung hilang. Tapi Bu Tin tidak menyangka hanya karna tidak diberi bubur, akhirnya si nenek itu berniat mengambil anaknya sebagai pengganti bubur. Makanya anak Bu Tin jadi sering rewel karna diganggu oleh nenek-nenek itu.
Tapi sekarang Bu Tin sudah bisa bernafas lega, karna hantu nenek itu sudah tidak ada. Diusir dengan Pak Haji. Pak Haji bilang rumah ini memang banyak jinnya, dan menyuruh kami semua untuk lebih sering beribadah untuk membentengi diri. Tidak lama setelah peristiwa itu, Bu Tin dan anaknya pamit untuk pindah kost. “Aaah, lagi-lagi. Belum juga 2 minggu, udah pindah.” gerutu Ira. “Sendiri lagi deh” sambungnya.
Beberapa hari kemudian, saat Ira sedang di tukang foto copy, dia bertemu dengan anak SMA yang dulu pernah ngekost di kamar bekas Bu Tin .. Setelah berbincang-bincang sebentar, si anak SMA ini mengundang Ira mampir ke kost-an nya yang sekarang. Disana, anak SMA yang bernama Ratih itu membeberkan alasannya kenapa saat itu dia tiba-tiba pindah kost tanpa pamit. Mau tau bagaimana ceritanya? Simak di part 3 yaa. Hehehe