Sesuai dengan judul, cerita ini aku dapat dari temanku, Ira. Ira berasal dari Jakarta. Saat itu dia baru saja diterima bekerja di salah satu Bank swasta di Bandung. Karna dia ga punya saudara di Bandung, akhirnya dia mutusin buat ngekost saja. Sudah beberapa tempat kost yang Ira datangi, tapi belum ada satupun kost yang sreg di hati.
Sampai akhirnya dia melihat sebuah rumah 2 tingkat, dan di pagar rumah itu dipasang papan kayu dengan tulisan “Terima kontrakan per bulan” Wajah letih Ira pun berubah menjadi senyum mengembang, karna lokasi rumah itu sangat strategis menurutnya. Sangat dekat dengan kantor bahkan bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki saja. Lokasinya juga cukup ramai, karena berada di pinggir jalan raya. “Berapa per bulannya, Bu?” tanya Ira. “300rb/bulan sudah termasuk air dan listrik.” jawab pemilik rumah yang diketahui bernama Ibu Ayi itu. Wah. Ira merasa beruntung. Karna jarang sekali orang dapat tempat kost di pusat kota besar dengan harga sewa semurah itu.

FYI, Bu Ayi adalah seorang ibu rumah tangga. Mempunyai 1 anak lelaki kelas 3 SD. Suaminya bekerja di perusahaan minyak di Riau. Karna jarak yang jauh, sang suami biasa pulang ke rumah hanya 6 bulan sekali. Rumah itu adalah rumah pribadi Bu Ayi, yang dijadikan tempat kost2 an di lantai bawah, sementara Bu Ayi dan anaknya tinggal di lantai atas. Lantai bawah dirombak sedemikian rupa hingga menjadi 6 kamar yang saling berjejer berdampingan, dan ada kamar mandi di masing-masing kamarnya. Lumayan nyaman sebenernya, tapi ada yang janggal di pikiran Ira karena yg ngekost disitu cuma 1 orang, anak SMA. Ditambah dia menjadi 2 orang. Sedangkan kamar yg lain kosong. Aneh memang jika mengingat lokasi kost yang strategis dan murah. Tapi Ira ga mau berpikir macam-macam. Ira memilih kamar yang bersebelahan dengan anak SMA itu, lalu mulai membereskan barang-barang nya.
Tak terasa sudah seminggu Ira menempati kost-an nya itu. Ira mulai mendengar desas-desus tetangga yang bilang jika rumah Bu Ayi itu pembawa sial karna sering dipakai untuk tempat maksiat. Kabarnya, selama suaminya tidak ada, Bu Ayi terlihat sering membawa lelaki lain ke kamarnya. Ira sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Karna dari jam 9 malam, ia sudah masuk ke kamarnya. Ah, Ira pikir itu cuma ulah tetangga yang tidak suka dengan Bu Ayi. Karena Bu Ayi ini memang terkenal pelit. Contohnya saja, walaupun Bu Ayi memasang harga murah pada usaha kost nya. Tapi pemakaian listrik dan air sangat dibatasi. Seperti tidak boleh menyalakan tv sampai larut malam. Tidak boleh ada kulkas atau segala macam alat yang bisa menyedot pemakaian listrik. Begitu juga dengan air. Air cuma boleh dinyalakan 2 hari sekali. Jadi Ira terpaksa membeli beberapa ember besar untuk menampung air saat mesin air dinyalakan. Memang lebay sih Bu Ayi. Wajar aja banyak yang ga suka.
Tapi ada gosip yang lebih parah lagi, yang kali ini sangat mengganggunya. Menurut orang sekitar, rumah Bu Ayi ini banyak penunggu nya. Karena sering dipakai maksiat, akhirnya banyak makhluk halus jadi demen tinggal disitu. Dan, seakan mendukung gosip itu, anak SMA yang tinggal di sebelah kamarnya, mendadak tanpa pamit pindah ke tempat kost lain yang jaraknya tidak jauh dari lokasi kost nya Ira. Laaah. Ya ngapain pindah kost kalo masih di situ-situ aja daerahnya. Hmm.. Benar-benar aneh.
Malam itu, resmi Ira menjadi satu-satunya penghuni kost. Ira merasa jenuh, karna sekarang sudah ga ada teman yang bisa diajak ngobrol lagi. Bu Ayi? Aaah, dia orangnya tertutup. Jarang sekali keluar dari kamarnya. Boro-boro untuk mengobrol, bertemu muka saja jarang. Akhirnya Ira mematikan lampunya dan memutuskan untuk tidur saja.
Baru saja dia memejamkan mata, tiba-tiba “Dug! Dug! Dug!” seperti ada yang memukul-mukul dinding kamar sebelah. Ira terjaga dan merasa ngeri, karna suara pukulan di dinding itu kini menjadi suara lelaki yang seperti sedang sakit asma. Sangaaat berat. Sampai Ira yang mendengarnya pun merasa seperti ikut-ikutan sesak napas juga!
Ira merinding mengingat kamar sebelah saat itu sudah kosong, tapi malam itu seperti masih ada penghuninya. Juga suara lelaki itu.. Yah. Seingatnya, tidak ada penghuni lelaki yang tinggal di rumah itu kecuali anak Bu Ayi yang masih kecil. Ira buru-buru menarik selimutnya sampai ke atas kepala. Suara lelaki itu masih terdengar. Alangkah kagetnya Ira ketika tiba-tiba tempat tidurnya seperti sedang diguncang-guncang oleh seseorang. Tidak! Tidak mungkin itu Bu Ayi. Karna pintu kamar sudah Ira kunci sedari tadi. Awalnya tempat tidurnya cuma diguncang 2 kali. Tapi karena Ira enggan membuka selimut untuk melihat siapa yang ada disitu, akhirnya guncangan itu semakin kencang. Bahkan sangat kencang. Seperti ada gempa bumi di kamarnya! Ira cuma memejamkan mata, sambil berdoa sebisanya. Keringat mulai bercucuran membasahi badannya. Karna memang saat itu udara sangat panas, ditambah selimut yang menutupi seluruh badan Ira.
Beberapa detik kemudian, guncangan itu berhenti. Ira mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tapi, tiba-tiba di dekat lemari kaca, dia melihat perempuan sedang bersenandung sambil menyisir rambutnya yang panjang. Ira tidak melihat begitu jelas wajahnya, karena lampu kamar dalam keadaan mati. Seakan tau sedang diperhatikan, perempuan itu menoleh ke arah Ira. Akhirnya wajah perempuan itu terlihat jelas. Alangkah kagetnya Ira, karena wajah perempuan itu mirip sekali dengannya! Bahkan pakaian yang dipakai, sama seperti pakaian yang dikenakan Ira saat itu!! Perempuan itu melihat Ira sambil terkekeh pelan. “Hihi”. Ira loncat dari tempat tidur dan langsung menyalakan lampu kamarnya. Perempuan tersebut hilang seketika. Sejak kejadian itu, ia selalu tidur dengan lampu menyala, bahkan sampai sekarang. Walaupun siang hari, dia tidak pernah mematikan lampu. Sepertinya dia jadi phobia dengan tempat-tempat yang gelap. Ah, aku kasian melihat temanku jadi begini. Kurang ajar tu setan.
Beberapa hari sejak peristiwa itu, akhirnya kamar sebelah ada penghuninya lagi. Seorang ibu dan anak lelakinya yang masih berumur 4 tahun. Ira senang, tapi sedikit khawatir karna menurutnya kamar sebelah adalah tempat yang paling angker. Karna sampai saat itu pun Ira masih mendengar suara-suara berisik di kamar itu. Tapi kalo dia memberitahu keadaan sebenarnya, takutnya ibu itu membatalkan niatnya untuk menyewa kamar disitu. “Ah, biarkan saja lah yang penting aku sekarang tidak sendiri” gumam Ira.
Dan, benar saja dugaan Ira. Baru beberapa hari menempati kamar itu, si ibu dan anaknya sudah mulai diusik oleh makhluk yang ada disitu. Dan kali ini lebih “kurang ajar” ngerjainnya. Bagaimana kisahnya? Simak kelanjutannya ya. Hehehe