Tentang penulis : mahesa

Assalamu’alaikum…

Pelebaran pembuluh darah di kepala yang tidak normal telah mahes derita sejak umur 5 tahun, membuat mahes hanya bisa terbaring lemah saat penyakit itu kambuh. Maaf mahes baru sekarang bisa cerita lagi. Dan ini urban legend yang semoga bisa membuat teman-teman pembaca merasa terhibur.

Cipunagara adalah salahsatu daerah terpencil di pinggiran kota subang. Sungai besar yang membelah kecamatan itu telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kelam bangsa indonesia. G30S/PKI sejarah paling memilukan itupun pernah sekali terjadi di kota kecil Subang ini.

Hari itu cuaca cerah di hari terakhir bulan september. Aku seperti biasa pergi ke ladang untuk mengurus tanaman agar panen nanti tidak mengecewakan,dan tentu saja agar istri dan kedua anakku bisa makan. Terik matahari telah angkuh di atas sana, dan sayup-sayup kumandang adzan memanggil. Setelah ku tunaikan kewajiban aku segera kembali ke gubuk tuaku, disana telah menunggu gadis kecil umur 7 tahun sedang menata piring berisi makanan.

“Assalamu’alaikum…” ucapku lembut sambil duduk di depannya.
“Wa’alaikum salam pak. Ini udah neng siapin buat bapak.” Ujarnya sambil mencium tanganku.
Aku tersenyum sesaat melihat wajahnya. Manis, mungil, polos. Neng siti Ardiah, begitulah nama yang ku berikan padanya. Gadis kecil ini adalah anakku yang paling besar.
Keheningan, suatu tingkat tertinggi dalam hubungan segera menyergap kami yang dengan nikmatnya menyantap makan siang.

“Neng, tahun depan kamu masuk SR (sekolah rakyat) yah?? Biar bisa baca, tulis, ngitung.” Aku bertanya di tengah ia sedang membereskan bekas makan siang kami.
“Alhamdulillah, iya pak. Ya udah neng pamit yah?? Assalamu’alaikum…”
Ia mencium tanganku dan berlari pulang dengan girang.
“Wa’alaikum salam gadis kecilku…..”

Senja semakin lelah menampakkan seni lukisnys di ufuk barat, sebentar lagi malam merayap melengkapi keringat hari ini. Aku berjalan gontai menuju rumahku. Kecil, namum penuh canda tawa. Sesaat setelah sholat magrib, aku mengajar mereka membaca kitab suci al-qur’an hingga isya. Kemudian istirahat. Bergumul birahi hingga pagi.

Subuh saja belum memanggil, tapi suara tembakan di rumahku seakan memaksaku melihat apa yang terjadi. Kulihat beberapa orang dengan pakaian hitam dan senjata yang dikokang, diarahkan ke kepalaku. Akhirnya gelap….

Dingin, ternyata aku dan keluargaku tidak dikubur secara layak. Kami dihanyutkan di sungai. Sedih, kenapa ini harus terjadi?? Aku benar-benar mengutuk kejadian itu hingga kini.

Aku masih suka berjalan menyusuri sungai, mencari anak bungsuku. Terakhir kali ku lihat tubuhnya hilang di sungai ini. Entah terbawa arus hingga jauh, entah kemana. Akupun dikubur tanpa nama, karena saat mereka menemukanku, tubuhku sudah tak berbentuk. Berkali-kali aku meminta tolong untuk di sempurnakan, mereka malah lari.

Jika kau menyusuri sungai dan memanggil “ujang” nama anakku yang paling bungsu, kau akan melihat aku datang. Masih berharap kembali bertemu dengan anakku.